Awas, Culture Shock! Perbedaan Rasa Kuliner Malaysia-Indonesia.

Makanan Malaysia rupanya memiliki tekstur dan rasa yang identik dengan makanan Indonesia. Hal ini tak lepas dari latar belakang Indonesia dan Malaysia yang masih satu rumpun yaitu, Melayu. Namun demikian, masing-masing kuliner memiliki perbedaan. Apa itu perbedaannya? Mari kita cari tahu perbedaannya.

Apakah pembaca pernah bertanya-tanya, mengapa rasa makanan di Yogyakarta cenderung manis daripada rasa makanan di Kediri? Ternyata semua ini tak lepas dari perkebunan tebu di masa Hindia-Belanda. Gula, dianggap sebagai lambang kemewahan. Maka, output yang terjadi adalah makanan yang berkembang di dekat lingkungan keraton cenderung lebih manis daripada yang jauh dari keraton, seperti Kediri yang memiliki rasa cenderung asin dan gurih, contohnya adalah masakan ladha atau lodho khas Jawa Timur.

Perbedaan budaya, juga turut melatar belakangi perbedaan yang terjadi, misalnya di Jawa. Status sosial menentukan ragam makanan yang dimakan dan diciptakan. Masih di lingkungan keraton, mereka sangat meyakini kalimat you are, what you eat atau kamu adalah apa yang kamu makan, sehingga tidak semua makanan dapat tersaji di meja makan keraton. Makanan yang dihasilkan dengan lingkungan dekat keraton juga banyak terpengaruhi dari berbagai budaya yang masuk ke dalam keraton, seperti Budaya Cina dan Eropa, hasilnya makanan seperti bakmi, sup, bestik, bergedel (frikadel), sosis (sausage) yang terhidang di meja makan keraton. Keraton meyakini bahwa status sosial yang melekat juga turut memberikan definisi mengenai makanan yang dikonsumsi oleh para elite.

Lalu, bagaimana perbedaan makanan satu rumpun namun berbeda negara ini? Berikut ulasannya.

  1. Hidangan Ikonik

Nasi. Salah satu bahan makanan pokok di Asia Tenggara yang sudah cukup fenomenal. Jika di Indonesia banyak sekali makanan berbahan pokok nasi, seperti Nasi Goreng, Nasi Padang, Nasi Campur, Nasi Uduk dan lain sebagainya, di Malaysia pun demikian. Makanan ikonik tersebut bernama Nasi Lemak.

“Mana ikan bilisnya? Ha, KFC mana ikan bilis dia?” ingat monolog yang pernah viral? Yap, saking khasnya Nasi Lemak, salah satu restoran cepat saji, KFC, membuat menu Nasi Lemak pada gerainya di Malaysia. Nasi Lemak adalah hidangan yang terkenal sekali di Malaysia, disajikan dengan sambal, ikan bilis, kacang tanah goreng, dan telur rebus. Jika pembaca berkesempatan mampir di sebuah kedai di Malaysia yang menyediakan menu Nasi Lemak, pembaca juga bisa menambahkan aneka lauk lain seperti ayam goreng, kerang dara cabai hijau dan lauk lainnya yang tersedia.

Selain nasi lemak, ada juga nasi kandar. Ingat video dengan tagline “Banjir bang? Banjir, itu dia”, itu salah satu penjual Nasi Kandar yang terkenal di Malaysia. Hidangan yang cara pemesanannya sedikit mirip seperti Nasi Padang ini, juga disajikan dengan berbagai pilihan lauk-pauk yang beragam dan kaya akan rempah-rempah, seperti ayam goreng merah, kari kambing, kari sotong, aneka olahan ikan dan telur ikan, telur rebus, telur asin, udang sambal dan sayuran. Namun, nasi yang digunakan pada Nasi Kandar bukan nasi matang tanpa bumbu, namun nasinya sedikit diberikan minyak sapi atau ghee untuk memberikan aroma dan rasa yang lebih kaya.

  1. Cita Rasa

“Tuhan menciptakan Capsaicin[1] pada cabai untuk melindungi diri tapi Kamu malah menggunakannya untuk membuat ayam geprek?”. Ayam geprek, rendang daging, soto betawi, palubasa serigala dan masakan Indonesia lainnya, memiliki cita rasa yang kuat, kuat dari segi bumbu hingga aromatik. Lalu, bagaimana dengan masakan Malaysia?

    • Penggunaan Santan

      Tak hanya di Indonesia, penggunaan santan di Malaysia juga umum digunakan dalam masakan Malaysia. Lalu, sama saja dong bang? Eits, tidak juga. Penggunaan santan dalam masakan Indonesia cenderung lebih melimpah dan umum, sedangkan di Malaysia penggunaan santan biasanya lebih hemat atau sedikit, akibatnya rasa masakan di Malaysia cenderung tidak memiliki rasa yang kuat seperti masakan di Indonesia.

    • Penggunaan Bumbu Aromatik
      🗿         : Makanan di Indonesia aromatiknya juga kuat kok, bang? Contohnya Cah Kangkung.
      🗿🗿  : Betul mang.
      🗿         : Jelasin dund, jangan betul doang -_-

      Dalam masakan Indonesia, sering kali ditemukan beberapa bumbu aromatik yang menjadi ciri khas, misalnya kemiri, ketumbar, jintan, daun assalamualaikum, dan kencur. Namun, di Malaysia, bumbu aromatik yang sering digunakan adalah kunyit, serai (sereh), daun jeruk purut, lengkuas, dan belacan[2].

      Walaupun terdapat bumbu-bumbu yang serupa atau memiliki kemiripan dalam penggunaannya dalam masakan Malaysia dan Indonesia, campuran atau kombinasi bumbu aromatik yang unik bagi masing-masing negara mencerminkan keanekaragaman dan kekayaan budaya kuliner yang dimiliki oleh setiap negara tersebut.

    • Sambal yang Pedas
      Di muka bumi ini, fungsi sambal memang untuk menambahkan cita rasa pedas dalam kegiatan makan, namun apakah yang membedakan sambal Malaysia dan Indonesia?
      Unsur yang pertama membedakan sambal adalah jenis cabai. Di Indonesia banyak sekali jenis cabai yang bisa digunakan. Makan gorengan? Pakai cabai hijau, makan ayam geprek? Cabai rawit merah dong, makan makanan sehat bergizi dan imunisasi? Lagu anak-anak pastinya. Di Malaysia sendiri, sambal umum menggunakan cabai cili padi (cabai rawit) dan cabai merah besar. Cabai cili padi umumnya lebih kecil dan lebih pedas dibandingkan dengan cabai merah besar.
      Selain jenis cabai, perbedaan pengolahan dan campuran bahan juga turut membedakan cita rasa. Di Malaysia, sambal mungkin memiliki penggunaan yang lebih luas dari bahan tambahan seperti serai, daun jeruk, atau asam keping (asam gelugur). Selain itu, sambal Malaysia mungkin lebih manis karena penambahan gula atau buah-buahan seperti belimbing atau nanas. Cara pengolahannya pun demikian, memang ada juga sambal yang prosesnya di uleg seperti di Indonesia, namun di Malaysia ada juga yang diiris atau dihancurkan dengan blender untuk mendapatkan konsistensi yang lebih halus atau bertekstur.

      Jadi, demikian perbedaan mendasar yang membuat cita rasa makanan di Indonesia dan Malaysia berbeda. Mengutip kalimat staff AeU Indonesia yang pernah berkunjung ke Malaysia, rasa makanan Malaysia kurang banyak mecinnya dan cenderung hambar. Namun, sekali lagi, makanan adalah preferensi masing-masing individu. Lihat saja acara master chef Indonesia, ada yang bilang masakan Kiki enak, tapi masakan Belinda juga lebih enak, namun sayangnya penulis belum pernah diberikan kesempatan untuk icip-icip masakan Kiki dan Belinda, semoga dapat mencoba di lain kesempatan. Kembali lagi, makanan adalah preferensi masing-masing individu, bisa saja terdapat khilafiyah di antara para pembaca tentang rasanya, namun jangan jadikan itu sebagai bahan perselisihan, namun jadikan sebagai experience para pembaca. Semoga membantu!

____________________________________________________________________________________________________________________________________________________________

[1] Capsaicin adalah zat bioaktif pada cabai yang menimbulkan rasa pedas dan panas.
[2] Pasta udang yang telah difermentasi dan digunakan sebagai bumbu dalam masakan Malaysia (seperti terasi).

Alamat

1. Felfest UI,  Daksa Room, Jl. Prof. Dr. Miriam Budiardjo, Kampus UI, Srengseng Sawah, Jakarta Selatan, Indonesia

2.  Gedung INBIS, Jalan Veteran No.16
Universitas Brawijaya, Kota Malang, Jawa Timur, Indonesia

Jam KErja

Senin- Jumat ( 08.00-17.00 WIB )

KOntak

Phone: +62 811-1632-299
Email: cbn.idn@aeu.edu.my

Yayasan CITRA BUNGA NUSANTARA